Industri otomotif Amerika Serikat (AS) kini tengah bersatu untuk mendesak Presiden Donald Trump agar menutup rapat pintu pasar domestik bagi produsen mobil asal China. Desakan yang meluas ini mencuat tepat menjelang pertemuan krusial antara Presiden Trump dan Presiden China Xi Jinping yang dijadwalkan berlangsung pada 14-15 Mei 2026. Langkah agresif dari para pelaku industri lokal ini dipicu oleh kekhawatiran mendalam setelah Trump sempat melontarkan pernyataan kontroversial di Detroit Economic Club pada Januari lalu, di mana ia menyatakan keterbukaannya jika produsen otomotif China ingin mendirikan pabrik di AS dengan memanfaatkan tenaga kerja lokal.
Gelombang penolakan ini tidak hanya datang dari produsen mobil lokal, melainkan juga melibatkan aliansi besar yang terdiri dari pemasok komponen, industri baja, serikat pekerja, hingga anggota parlemen dari lintas partai (Demokrat dan Republik). Mereka mengkhawatirkan kapasitas produksi raksasa milik China, keunggulan teknologi kendaraan listrik (EV) mereka, serta dukungan subsidi besar-besaran dari pemerintah Beijing. Kombinasi tersebut memungkinkan mobil China dijual dengan harga yang sangat murah, yang dinilai dapat melumpuhkan basis manufaktur otomotif dan mengancam stabilitas ekonomi nasional Paman Sam jika dibiarkan masuk.
Ancaman Keamanan Data dan Regulasi Ketat
Senator Demokrat, Elissa Slotkin, secara terbuka memperingatkan Trump agar tidak membuat kesepakatan yang merugikan industri dalam negeri saat bertemu dengan Xi Jinping. Slotkin bersama Senator Republik Bernie Moreno dari Ohio kini tengah mendorong rancangan undang-undang bersama yang bertajuk Connected Vehicle Security Act. Regulasi ini dirancang khusus untuk melarang peredaran kendaraan asal China di AS atas dasar risiko keamanan nasional, terutama terkait potensi pengumpulan data pengguna secara masif melalui ekosistem kendaraan terkoneksi (connected vehicles).
Penolakan datang dari koalisi menyeluruh: produsen lokal, diler, hingga pemasok suku cadang.
Regulasi baru dirancang untuk memperkuat kebijakan pembatasan era Joe Biden.
Pakar memperingatkan dampak ekonomi dan keamanan nasional akan sulit dipulihkan jika investasi China terlanjur tertanam di pasar AS.
Meskipun Perwakilan Dagang AS, Jamieson Greer, menyatakan bahwa sektor otomotif belum menjadi agenda utama dalam pertemuan bilateral tersebut, kekhawatiran di kalangan industri tetap tinggi. Banyak pihak yang cemas bahwa kebijakan tarif tinggi yang ada saat ini bisa saja dilonggarkan oleh Trump demi mengejar komitmen investasi jangka pendek yang justru dapat merugikan masa depan manufaktur Amerika dalam jangka panjang.
Belajar dari Ekspansi Ekstrim China di Eropa dan Meksiko
Kekhawatiran industri otomotif AS didasarkan pada realitas yang terjadi di pasar global seperti Eropa dan Meksiko, di mana merek-merek China berhasil mencaplok pangsa pasar dengan sangat cepat melalui strategi harga murah. Di tengah situasi pasar AS di mana harga rata-rata mobil baru melonjak hingga 51.000 dollar AS (sekitar Rp 837 juta), kehadiran mobil listrik murah dari China dipandang sebagai ancaman fatal yang dapat langsung merebut minat konsumen domestik. Sebagai perbandingan, di Meksiko, mobil listrik seperti Geely EX2 EV dipasarkan mulai dari 22.700 dollar AS (sekitar Rp 372 juta), jauh di bawah harga Tesla Model 3 di AS yang dibanderol sekitar 38.630 dollar AS (setara Rp 634 juta).
Agresivitas penetrasi pasar ini bahkan dilaporkan telah mulai menyulitkan pabrikan raksasa sekelas Toyota Motor Corporation di kawasan Amerika Utara. Pihak manajemen Toyota North America mengakui bahwa keunggulan harga yang dimiliki produk China tidak lepas dari intervensi dan dukungan kuat pemerintah mereka. Melalui tekanan kolektif ini, industri otomotif AS berharap pemerintah tetap mempertahankan proteksionisme ketat demi melindungi kedaulatan industri dan rantai pasok dalam negeri.
Sumber: otomotif.kompas.com