Daya Beli Melemah dan Harga Tinggi Jadi Pemicu Utama Lesunya Pasar Otomotif Nasional

Daya Beli Melemah dan Harga Tinggi Jadi Pemicu Utama Lesunya Pasar Otomotif Nasional

Pasar otomotif Indonesia tengah menghadapi tantangan struktural yang cukup berat di awal tahun 2026. Berdasarkan hasil riset terbaru yang dirilis oleh Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI), lesunya angka penjualan kendaraan roda empat bukan disebabkan oleh kurangnya inovasi produk maupun absennya insentif dari pemerintah. Isu utama yang menyumbat pertumbuhan industri ini justru berakar pada masalah finansial, di mana terjadi jurang pemisah yang semakin lebar antara harga kendaraan baru yang terus merangkak naik dengan kemampuan daya beli riil masyarakat.

Dalam survei mendalam yang melibatkan 4.565 responden dengan profil finansial yang sebenarnya masuk dalam kategori mampu, mayoritas dari mereka justru memilih untuk menahan diri. Sebanyak 3.054 responden secara tegas menyatakan tidak memiliki rencana untuk memboyong mobil baru dalam kurun waktu lima tahun ke depan. Fenomena penundaan massal ini didorong oleh sejumlah alasan krusial yang mencerminkan kondisi ekonomi domestik saat ini.

Faktor Penghambat Pembelian Kendaraan Baru

Sebanyak 26 persen responden mengaku kondisi keuangan pribadi mereka belum memungkinkan untuk melakukan pengeluaran besar.

Sekitar 19 persen responden menilai harga mobil baru yang beredar di pasaran saat ini sudah terlalu mahal dan tidak rasional.

Sebesar 13 persen konsumen memilih bersikap wait-and-see demi mengantisipasi ketidakpastian situasi ekonomi ke depan.

Sebagian kelompok masyarakat mulai beralih menggunakan moda transportasi umum massal serta layanan transportasi daring sebagai alternatif mobilitas harian.

Kondisi tersebut secara otomatis mengubah peta persaingan dan menggeser preferensi konsumen ke pasar mobil bekas yang dinilai jauh lebih ekonomis. Dari total 767 responden yang tercatat sebagai pemilik mobil bekas, sebanyak 42 persen di antaranya mengakui faktor harga yang terjangkau sebagai alasan utama memilih kendaraan sekon. Selain itu, beban pajak yang lebih ringan (23 persen) serta tingkat depresiasi nilai aset yang cenderung lebih rendah (10 persen) menjadi magnet penarik minat konsumen kelas menengah.

Dilema Penurunan Kelas Menengah

Peneliti Senior LPEM FEB UI, Riyanto, memaparkan bahwa akar dari stagnasi industri otomotif nasional ini bermuara pada melemahnya daya beli masyarakat, khususnya kelompok kelas menengah yang selama ini menjadi tulang punggung penjualan. Pertumbuhan ekonomi nasional yang mandek di kisaran 5 persen membuat peningkatan pendapatan per kapita tidak berjalan agresif. Situasi ini diperparah dengan menyusutnya jumlah kelompok kelas menengah di Indonesia dari yang semula berada di angka 57 juta jiwa pada tahun 2019, merosot tajam hingga tersisa sekitar 47 juta jiwa pada tahun 2024.

Penyusutan jumlah dan pendapatan kelompok ini berdampak langsung pada siklus pergantian mobil keluarga yang kini menjadi jauh lebih panjang dari biasanya. Jika dahulu konsumen rutin mengganti kendaraan mereka setiap tiga hingga lima tahun sekali, kini mereka cenderung mempertahankan kendaraan lama atau memilih opsi rotasi ke segmen mobil bekas. Berdasarkan simulasi dari LPEM FEB UI, upaya stimulasi pasar seperti pemotongan harga mobil baru sebesar 10 persen sekalipun dinilai belum mampu memberikan daya dongkrak yang signifikan untuk memulihkan gairah pasar otomotif dalam jangka menengah tanpa adanya perbaikan pendapatan masyarakat secara menyeluruh.

Sumber: otomotif.kompas.com