Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Jawa Timur membenarkan adanya kebijakan pengurangan tenaga kerja yang melanda dua perusahaan manufaktur komponen otomotif terkemuka di wilayah Pasuruan dan Mojokerto. Isu tidak diperpanjangnya kontrak kerja ini semakin menguat seiring dengan santernya kabar mengenai rencana relokasi operasional sebagian lini produksi kedua pabrik tersebut ke Vietnam. Langkah efisiensi ini memicu kekhawatiran meluas di kalangan pekerja lokal mengenai stabilitas serta daya saing sektor industri manufaktur di Jawa Timur di tengah dinamika ekonomi global.
Penurunan Volume Produksi Menjadi Pemicu Utama Kepala Bidang Pengawasan dan K3 Disnakertrans Jatim, Tri Widodo, mengungkapkan bahwa pengurangan pekerja terjadi di PT Jatim Autocom Indonesia (JAI) yang berbasis di Pasuruan dan PT Surabaya Autocom Indonesia (SAI) di Mojokerto. Kedua perusahaan tersebut dikenal sebagai pemasok utama komponen otomotif untuk jaringan industri Jepang. Berdasarkan data resmi, masing-masing pabrik tidak memperpanjang kontrak bagi sedikitnya 300 pekerja, sehingga total tenaga kerja yang terdampak mencapai 600 orang. Kebijakan pemangkasan dan rencana pemindahan ini didorong oleh beberapa faktor krusial, antara lain:
Terjadinya penurunan signifikan dalam volume pesanan atau order dari pihak principal otomotif global.
Tingginya persaingan daya tarik investasi di kawasan Asia Tenggara, di mana Vietnam dinilai menawarkan fasilitas dan regulasi industri yang lebih memikat.
Pergeseran strategi korporasi global yang menuntut efisiensi biaya operasional dan logistik di tingkat regional.
Meskipun bayang-bayang relokasi ke Vietnam terus menguat, Disnakertrans Jawa Timur memastikan bahwa perpindahan fasilitas produksi secara menyeluruh tidak akan terjadi dalam kurun waktu dekat. Pihak pemerintah daerah saat ini masih terus melakukan proses dialog dan negosiasi intensif agar kedua manajemen perusahaan tetap mempertahankan basis produksi mereka di Indonesia. Tri Widodo menegaskan bahwa situasi ini sangat bergantung pada perkembangan kondisi ekonomi dan politik global, dengan harapan iklim investasi dalam negeri yang semakin kondusif dapat membatalkan rencana hengkang tersebut dan membuka peluang perluasan kerja di masa depan.
Sumber: surabaya.kompas.com