FSPMI Buka Suara Terkait Isu Relokasi Pabrik Komponen Otomotif Jawa Timur ke Vietnam

FSPMI Buka Suara Terkait Isu Relokasi Pabrik Komponen Otomotif Jawa Timur ke Vietnam

Wacana pemindahan operasional industri manufaktur kembali mencuat setelah Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) Jawa Timur memberikan konfirmasi mengenai rencana relokasi sebagian produksi dari pabrik komponen otomotif yang berbasis di Kabupaten Mojokerto dan Kabupaten Pasuruan. Kendati kabar ini baru hangat diperbincangkan publik, pihak serikat pekerja menegaskan bahwa rencana strategis tersebut bukan merupakan kejutan baru. Langkah korporasi ini diklaim telah masuk dalam meja pembahasan internal antara manajemen perusahaan dan perwakilan buruh sejak tiga tahun yang lalu.

Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) FSPMI Jawa Timur, Jazuli, menjelaskan bahwa perusahaan manufaktur berskala besar tersebut tidak bermaksud menutup seluruh fasilitas produksinya yang ada di Indonesia. Kebijakan yang sedang dipertimbangkan manajemen adalah mengalihkan sebagian lini produksi tertentu ke Vietnam. Sebagai langkah antisipasi, FSPMI secara aktif membangun komunikasi intensif dan melakukan negosiasi bersama pihak manajemen guna mencari jalan keluar terbaik agar kebijakan pemindahan produksi ini tidak berujung pada gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

Ancaman Terhadap Industri Padat Karya

Informasi mengenai dinamika industri ini juga telah diteruskan kepada Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh, Said Iqbal. Menurut Jazuli, laporan tersebut krusial untuk disampaikan ke tingkat pusat agar selaras dengan program prioritas pemerintah dalam memitigasi risiko PHK bagi tenaga kerja domestik. Perusahaan komponen otomotif yang berencana melakukan relokasi tersebut diketahui merupakan sektor industri padat karya yang berorientasi pada pasar ekspor dan menyerap ribuan tenaga kerja lokal.

Total pekerja yang menggantungkan nasibnya di pabrik tersebut mencapai lebih dari 2.000 orang.

Sebagian besar buruh yang berada di lini produksi terdampak berpotensi mengalami ketidakpastian kerja jika kesepakatan tidak tercapai.

FSPMI terus mengurai hambatan regulasi maupun operasional bersama perusahaan agar produksi tetap bertahan di Jawa Timur.

Di sisi lain, tantangan global dituding menjadi pendorong utama di balik perubahan haluan bisnis ini. Berdasarkan keterangan awal, situasi ekonomi global yang belum sepenuhnya stabil serta transisi industri otomotif dunia menuju ekosistem kendaraan listrik (Electric Vehicle) menjadi alasan kuat korporasi melirik Vietnam. Negara tersebut dinilai lebih agresif dan suportif dalam memberikan stimulus dan regulasi bagi pengembangan industri kendaraan masa depan. Sementara itu, Dinas Ketenagakerjaan Kabupaten Mojokerto menyatakan masih terus melakukan penelusuran mendalam karena belum menerima laporan resmi mengenai identitas spesifik dari perusahaan yang dimaksud.

Sumber: surabaya.kompas.com