Kenaikan harga bahan bakar solar nonsubsidi belakangan ini telah menarik perhatian para pelaku industri otomotif di Indonesia. Meski telah turun menjadi Rp 24.800 per liter, harga solar nonsubsidi sebelumnya sempat menyentuh angka Rp 27.900 per liter pada Mei 2026. Kenaikan ini semakin membuat bahan bakar solar sulit dijangkau, terutama bagi para konsumen yang tertarik untuk menggunakan mobil diesel. Hal ini tentu memengaruhi dinamika pasar kendaraan diesel, baik baru maupun bekas.
Dampak Pada Permintaan Mobil Diesel Bekas Menurut Ricky Prawiro, Sekretaris Jenderal Asosiasi Mobil Bekas Indonesia (AMBI), pengaruh harga solar yang semakin tinggi telah mengakibatkan penurunan minat terhadap mobil diesel bekas. Dalam acara Forum Sidkom yang diadakan di Jakarta pada tanggal 27 Juni 2023, Ricky menjelaskan bahwa kebutuhan akan mobil diesel bekas mengalami penurunan signifikan. “Bicara minat (mobil) diesel (bekas), sejak (harga solar) naik ini memang ada penurunan, dari yang enquiry, baik yang walk-in maupun yang dari telepon, ataupun media sosial,” tuturnya.
Penurunan minat pembeli ini turut berimbas pada harga kendaraan diesel bekas yang kini anjlok drastis. Seperti contohnya, depresiasi harga Toyota Fortuner bisa mencapai 26% dibandingkan dengan harga baru setelah lonjakan harga bahan bakar. “Depresiasi Pajero sampai 33,15%, terus Hyundai Palisade sampai 21,5%,” imbuh Ricky. Fenomena ini menggambarkan betapa besar pengaruh harga bahan bakar terhadap nilai jual mobil diesel bekas, menunjukkan bahwa konsumen kini lebih berhati-hati dalam memilih kendaraan.
Strategi Showroom dalam Menghadapi Penurunan Minat Sejalan dengan turunnya minat konsumen, banyak showroom mobil bekas yang terpaksa menyesuaikan harga jual kendaraan diesel. Ricky mengungkapkan, untuk menarik calon pembeli, harga mobil diesel bekas harus ditawarkan di bawah harga pasaran. “Seperti Fortuner. Fortuner ini tidak pernah depresiasinya segede ini dalam sejarah, kecuali (zaman pandemi) Covid. Di barunya Rp 663 juta tahun 2024, itu turun 26%, biasanya sekarang Rp 485 juta,” jelas Ricky.
Harga Rp 485 juta merupakan harga jual yang ditawarkan showroom, namun Ricky menjelaskan bahwa harga beli dari dealer jauh lebih rendah mengingat penurunan permintaan. “Saya mesti kasih harga benar-benar menarik, baru ini mobil bisa keluar. Kalau saya jual pakai harga pasaran, itu pasti nggak ada (calon konsumen) yang nanya,” tambahnya. Hal ini menunjukkan tantangan yang dihadapi showroom dalam mempertahankan kelangsungan usaha di tengah situasi yang kurang menguntungkan. Ricky menambahkan bahwa sebelumnya, penjualan mobil seperti Toyota Fortuner sangat mudah dilakukan, namun kini menjadi jauh lebih sulit.
Sumber: oto.detik.com