Wacana relokasi sebagian basis produksi industri komponen otomotif dari Indonesia ke Vietnam kini tengah menjadi sorotan hangat. Isu ini mencuat seiring dengan adanya pergeseran strategi produksi di sejumlah pabrik manufaktur di wilayah Jawa Timur, yang juga dipengaruhi oleh dinamika geopolitik serta rantai pasok global. Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh, Said Iqbal, mengungkapkan bahwa setidaknya ada dua perusahaan raksasa yang berlokasi di Pasuruan dan Mojokerto yang berpotensi memindahkan sebagian lini produksinya ke Vietnam. Langkah ini dinilai membawa risiko besar terhadap nasib ribuan pekerja lokal, terutama di tengah transisi global menuju kendaraan listrik (electric vehicle/EV).
Kesiapan Ekosistem Kendaraan Listrik Menjadi Penentu
Menanggapi fenomena tersebut, Gabungan Industri Alat-alat Mobil dan Motor (GIAMM) menilai bahwa perpindahan arus investasi ini sangat berkaitan dengan daya saing antarnegara. Sekretaris Jenderal GIAMM, Rachmat Basuki, menjelaskan bahwa dua pabrik yang dimaksud teridentifikasi sebagai produsen wiring harness (rangkaian kabel) dari grup Yazaki. Salah satu alasan utama kuatnya daya tarik Vietnam adalah kesiapan ekosistem EV mereka yang dinilai selangkah lebih maju daripada Indonesia.
Vietnam telah memiliki basis produksi mobil listrik massal melalui merek lokal VinFast yang sudah beroperasi selama tiga tahun terakhir.
Kehadiran industri matang tersebut membuka peluang besar bagi para pemasok komponen untuk masuk dan terintegrasi langsung dalam rantai pasok.
Sebaliknya, meskipun pasar otomotif Indonesia sangat besar, pengembangan kendaraan listrik di tanah air sebagian besar masih dalam tahap perakitan atau Completely Knocked Down (CKD), sehingga belum optimal dalam menyerap komponen dari supplier lokal.
Tekanan Pasar Domestik dan Tantangan Investasi Nasional
Selain faktor ekosistem kendaraan listrik, industri komponen dalam negeri juga sedang menghadapi tekanan berat akibat penurunan volume penjualan di pasar kendaraan roda empat (R4). Kondisi ini menyebabkan banyak pabrik lokal beroperasi di bawah kapasitas produksi optimal mereka (under capacity). Saat ini, sebagian besar pelaku industri hanya mampu bertahan berkat stabilitas pasar kendaraan roda dua (R2), meskipun ceruk pasar ini tidak bisa menampung seluruh lapisan supplier otomotif yang ada.
Situasi ini menjadi alarm penting bagi iklim investasi di Indonesia. Tren relokasi ke Vietnam ternyata tidak hanya terjadi pada sektor otomotif, melainkan sudah lebih dulu melanda industri elektronik, teknologi informasi (IT), hingga tekstil. Walaupun informasi relokasi pabrik grup Yazaki ini masih memerlukan konfirmasi langsung dari pihak manajemen perusahaan terkait, fenomena pergeseran modal ini mempertegas perlunya pembenahan regulasi dan insentif di Indonesia agar tidak semakin tertinggal dari negara tetangga dalam memperebutkan investasi global.
Sumber: otomotif.kompas.com