Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memberikan tanggapan positif terkait tren banyaknya merek otomotif baru di Indonesia yang memilih skema perakitan kendaraan melalui pihak ketiga atau sistem maklon. Fenomena ini terlihat jelas pada langkah strategis beberapa produsen global, salah satunya adalah Chery Group yang mempercayakan proses perakitan unit mereka di dalam negeri melalui kemitraan dengan PT Handal Indonesia Motor (HIM). Langkah memanfaatkan fasilitas pabrik yang sudah ada dinilai sebagai strategi adaptasi yang efisien bagi para pemain baru di pasar otomotif nasional.
Langkah Bertahap Menuju Manufaktur Penuh
Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin, Setia Diarta, menjelaskan bahwa metode maklon produksi mobil adalah hal yang sangat wajar. Ia menegaskan bahwa investasi di sektor industri otomotif tidak dapat dilakukan secara instan melainkan membutuhkan proses panjang sebelum sebuah perusahaan mampu membangun ekosistem manufaktur penuh secara mandiri. Menurutnya, tidak ada produsen mobil di dunia yang langsung memulai bisnisnya dengan fasilitas manufaktur skala penuh tanpa melalui tahapan-tahapan awal.
Mengandalkan skema Completely Knocked Down (CKD) atau perakitan lokal di awal masuk pasar.
Melalui proses panjang dari impor CBU, CKD, hingga Incompletely Knocked Down (IKD).
Mengembangkan kapasitas lokal secara bertahap mulai dari pengelasan (welding), pengecatan (painting), hingga pencetakan komponen (stamping).
Dampak Ekonomi dan Potensi Investasi Masa Depan
Kemenperin juga mengingatkan agar publik tidak memandang sebelah mata aktivitas perakitan atau assembly. Proses ini dinilai tetap membawa dampak ekonomi yang signifikan, khususnya dalam memperluas lapangan pekerjaan bagi masyarakat lokal jika dibandingkan dengan sekadar mengimpor kendaraan secara utuh (CBU). Sebagai ilustrasi, skema impor mungkin hanya membutuhkan segelintir staf di tingkat dealer, sedangkan proses perakitan CKD motor atau mobil dapat melibatkan puluhan hingga ratusan tenaga kerja langsung di lini produksi. Ke depan, seiring dengan meningkatnya volume permintaan pasar dan masuknya pengenalan teknologi baru, para produsen dipastikan akan terus menyuntikkan investasi tambahan untuk meningkatkan skala industri mereka di Indonesia.
Sumber: otomotif.kompas.com