Lembaga pemikir ekonomi Center for Strategic and International Studies (CSIS) resmi merilis peta jalan mitigasi risiko ekonomi yang memproyeksikan dinamika pasar nasional pada tahun 2026. Berdasarkan hasil kajian strategis yang dipaparkan dalam Media Briefing Outlook di Jakarta, setidaknya ada empat tantangan utama yang saling berkaitan dan berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi dalam negeri. Sinergi antara perlambatan ekonomi global dan keterbatasan kebijakan makro domestik menjadi poin krusial yang memerlukan penanganan terintegrasi dari pembuat kebijakan.
Peneliti Senior Departemen Ekonomi CSIS, Deni Friawan, menjelaskan bahwa faktor eksternal masih menjadi hulu dari ketidakpastian yang terjadi saat ini. Mesin-mesin pertumbuhan ekonomi dunia seperti China, Amerika Serikat, dan sejumlah kekuatan ekonomi di Eropa tengah menghadapi krisis internalnya masing-masing, mulai dari ancaman deflasi hingga beban utang publik yang membengkak. Situasi ini diperparah oleh eskalasi konflik geopolitik yang berujung pada fragmentasi perdagangan internasional, proteksionisme tarif, serta aksi pembatasan ekspor komoditas strategis yang mengganggu rantai pasok global.
Dilema Fiskal dan Ancaman Pengangguran Terdidik
Di ranah domestik, Indonesia dihadapi oleh keterbatasan ruang fiskal yang akut akibat realisasi penerimaan pajak yang mengalami shortfall atau tidak mencapai target, sementara belanja negara terus membubung. Kondisi ini memperlebar defisit anggaran mendekati ambang batas aman 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Masalah kian pelik mengingat pemerintah harus mengalokasikan anggaran besar untuk membayar utang jatuh tempo yang diperkirakan menembus angka Rp 700 triliun hingga Rp 800 triliun per tahun, di tengah mahalnya biaya penarikan utang baru akibat tingginya premi risiko di pasar keuangan dunia.
Selain komplikasi kebijakan moneter dan fiskal, CSIS menyoroti dinamika ketenagakerjaan yang mengkhawatirkan dengan bergesernya penyerapan tenaga kerja ke sektor informal berkualitas rendah. Fenomena gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) massal yang mencatatkan sekitar 80.000 korban sepanjang tahun lalu�mayoritas terkonsentrasi di kawasan industri Jawa Barat, Banten, dan Jawa Tengah�kini menyisakan bom waktu berupa lonjakan pengangguran terdidik usia muda.
Tekanan perlambatan ekonomi global dan tingginya biaya utang publik luar negeri.
Defisit fiskal yang melebar akibat shortfall penerimaan pajak negara.
Memburuknya kualitas lapangan kerja formal dan ancaman pengangguran usia muda.
Kerentanan harga pangan (volatile food) serta gejolak harga energi global.
Sektor Pangan dan Energi yang Rentan Gejolak
Melengkapi daftar tantangan makro di tahun 2026, kerentanan pada stabilitas harga komoditas pangan strategis dan fluktuasi sektor energi global diprediksi akan menguji daya beli masyarakat secara langsung. Meskipun angka inflasi umum saat ini tergolong rendah, potensi lonjakan harga pada komponen bahan pangan bergejolak (volatile food) tetap mengintai akibat dampak cuaca ekstrem ekstrem dan menjelangnya momentum hari besar keagamaan.
Ditambah dengan ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang sewaktu-waktu dapat mengerek harga minyak dunia, pemerintah dituntut untuk melakukan intervensi kebijakan yang cepat, presisi, dan terukur demi mengamankan fondasi ekonomi nasional dari potensi guncangan multi-sektor tersebut.
Sumber: money.kompas.com