Ambisi Indonesia untuk mentransformasi diri menjadi salah satu basis produksi kendaraan listrik (electric vehicle/EV) global terus digenjot oleh pemerintah. Langkah strategis seperti pembangunan ekosistem baterai terintegrasi, pemanfaatan cadangan nikel yang melimpah, hingga pemberian berbagai insentif fiskal terbukti sukses menarik perhatian para raksasa otomotif global. Sejumlah pabrikan terkemuka asal China seperti BYD, Chery, Geely, hingga GAC Aion kini berbondong-bondong menanamkan modalnya untuk membangun fasilitas manufaktur dan perakitan di tanah air. Kendati aliran investasi mengalir deras, Indonesia kini dihadapkan pada tantangan krusial untuk memastikan bahwa negara ini tidak sekadar menjadi pasar konsumsi, melainkan pusat produksi global yang mandiri dan berdaya saing tinggi.
Keseimbangan Kebijakan dan Risiko Proteksionisme
Menanggapi dinamika ekosistem EV nasional, Heiwai Tang, ekonom internasional sekaligus Associate Vice President (Global) di The University of Hong Kong, memberikan pandangan kritis mengenai arah kebijakan industri Indonesia. Menurut Prof. Tang, pemerintah dituntut untuk merancang regulasi yang mampu menyeimbangkan antara peningkatan produktivitas industri dan penciptaan lapangan kerja berkualitas bagi masyarakat lokal. Ia memperingatkan bahwa kebijakan yang terlalu protektif atau menutup diri dalam jangka pendek berpotensi menjadi bumerang yang melemahkan daya saing Indonesia di masa depan. Pasar yang terlalu dilindungi justru dinilai berisiko membuat pelaku industri domestik terlena dan gagal berkembang sesuai standar global.
Keseimbangan regulasi diperlukan untuk memacu produktivitas tanpa mengorbankan lapangan kerja lokal.
Proteksionisme yang berlebihan berisiko menciptakan pasar domestik yang tidak kompetitif dan tertinggal secara teknologi.
Keterbukaan pasar yang terukur menjadi kunci utama dalam menarik kemitraan strategis global.
Transfer Teknologi sebagai Kunci Jangka Panjang
Lebih lanjut, Prof. Tang menekankan bahwa mempertahankan pasar yang terbuka secara sehat merupakan formula paling berkelanjutan demi pembangunan ekonomi jangka panjang. Melalui keterbukaan tersebut, Indonesia memiliki posisi tawar yang kuat untuk mendorong terjadinya transfer pengetahuan (knowledge transfer) serta adopsi teknologi mutakhir dari perusahaan global ke entitas lokal. Langkah ini dinilai sangat relevan dengan visi hilirisasi nikel yang sedang diusung pemerintah. Ke depannya, pekerjaan rumah terbesar Indonesia adalah memastikan komitmen investasi dari para produsen China tidak berhenti pada aktivitas perakitan akhir (assembling) semata, melainkan juga menyentuh penguatan rantai pasok komponen lokal, riset dan pengembangan (R&D), serta peningkatan keahlian sumber daya manusia secara menyeluruh.
Sumber: otomotif.kompas.com