Menelusuri Jejak Perjuangan Kiai Ageng Ngaliman, Sang Pahlawan Gerilya dari Lereng Gunung Wilis

Menelusuri Jejak Perjuangan Kiai Ageng Ngaliman, Sang Pahlawan Gerilya dari Lereng Gunung Wilis

Kabupaten Nganjuk tidak hanya kaya akan keindahan alamnya, tetapi juga menyimpan narasi sejarah perjuangan yang mendalam di lereng Gunung Wilis. Salah satu figur sentral yang melekat kuat dalam ingatan kolektif masyarakat setempat adalah Kiai Ageng Ngaliman, atau yang akrab disapa Mbah Ngliman. Beliau dikenal luas sebagai tokoh pembabat alas Desa Ngliman, Kecamatan Sawahan, sekaligus ulama penyebar agama Islam yang disegani. Namun, di balik figur religiusnya, catatan sejarah mengungkap bahwa Mbah Ngliman merupakan seorang panglima perang rakyat yang gigih memimpin perlawanan bersenjata melawan penjajah kolonial Belanda pada awal abad ke-19.

Sumbu Perlawanan Terhadap Tanam Paksa

Pemerhati Sejarah dari Dinas Kepemudaan, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disporabudpar) Kabupaten Nganjuk, Aries Trio Effendi, menjelaskan bahwa nama Desa Ngliman sendiri diyakini kuat berakar dari nama besar sang ulama. Sebagai seorang guru ngaji yang memiliki pengaruh spiritual besar, Mbah Ngliman berhasil mentransformasikan majelis ilmu menjadi basis gerakan sosial. Gerakan perlawanan ini dipicu oleh penderitaan mendalam rakyat jelata akibat kebijakan represif pemerintah kolonial Hindia Belanda yang menerapkan sistem tanam paksa (cultuurstelsel) serta penarikan pajak yang sangat mencekik pada tahun 1830. Tidak tahan melihat penindasan tersebut, Kiai Ageng Ngaliman menggalang kekuatan massa untuk melakukan perlawanan gerilya yang masif.

Menolak penerapan sistem tanam paksa yang mengeksploitasi petani lokal.

Menentang tingginya pungutan berbagai jenis pajak kolonial yang memberatkan ekonomi warga.

Menghimpun kekuatan santri dan masyarakat pedalaman menjadi pasukan gerilya.

Misteri Dua Makam dan Akhir Perjuangan

Strategi gerilya yang diterapkan oleh Mbah Ngliman sempat membuat pasukan Belanda kewalahan. Bersama para pengikut setianya, ia bergerak lincah menyusuri medan ekstrem lereng Gunung Wilis demi menghindari kepungan musuh. Berdasarkan dokumen resmi pemerintah kolonial Belanda, pelarian dan perlawanan sang kiai akhirnya terhenti setelah ia berhasil ditangkap pada tahun 1832. Tak lama pasca-penangkapan tersebut, Kiai Ageng Ngaliman wafat dan jasadnya dipulangkan ke tanah rintisannya. Hingga kini, terdapat dua pusara yang dikeramatkan di Desa Ngliman, yakni Makam Gedong Wetan yang merujuk pada tokoh era Mataram Islam, dan Makam Gedong Kulon yang diyakini kuat sebagai peristirahatan terakhir Kiai Ageng Ngaliman sang pejuang anti-kolonial. Dua situs ini tetap berdiri kokoh sebagai simbol heroisme dan warisan budaya yang terus dirawat oleh generasi penerus di Nganjuk.

Sumber: detik.com