Akses energi bersih kini resmi menjangkau salah satu wilayah kepulauan terluar Indonesia. Pulau Sembur, yang terletak di Provinsi Kepulauan Riau dan hanya berjarak sekitar satu jam perjalanan laut dari Singapura, akhirnya berhasil keluar dari belenggu keterbatasan energi yang telah berlangsung selama puluhan tahun. Melalui inisiatif strategis pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), wilayah terpencil ini mulai merasakan transformasi besar yang tidak hanya menerangi pemukiman, melainkan juga menggerakkan roda perekonomian dan memajukan aktivitas sosial kemasyarakatan secara berkelanjutan.
Langkah konkret pemenuhan energi ini diwujudkan oleh Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) dengan membangun infrastruktur utama berupa PLTS offgrid berkapasitas 400 kilowatt peak (kWp). Untuk memastikan pasokan daya tetap stabil sepanjang hari, proyek percontohan ini dilengkapi dengan sistem penyimpanan baterai berkapasitas jumbo, yakni 1 megawatt hour (MWh). Pengelolaan fasilitas energi terbarukan ini nantinya akan diserahkan sepenuhnya kepada Koperasi Kelurahan Merah Putih Galang Baru, sebuah langkah pemberdayaan berbasis komunitas agar masyarakat setempat dapat mandiri secara ekonomi dan operasional.
Transformasi Sektor Pendidikan, Keagamaan, dan Nelayan Selain membangun interkoneksi utama, Pertamina NRE juga menyalurkan bantuan PLTS skala kecil berkapasitas 3,8 kWp dengan dukungan baterai 5 kilowatt hour (kWh). Kehadiran listrik surya ini langsung dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan vital fasilitas publik di Kelurahan Galang Baru, Pulau Sembur. Perubahan ini membawa dampak positif yang signifikan pada dua sektor fundamental:
Sektor Keagamaan: Masjid-masjid di Pulau Sembur kini memiliki pencahayaan dan fasilitas suara yang memadai, sehingga warga dapat menjalankan ibadah dengan jauh lebih khusyuk dan nyaman.
Sektor Pendidikan: Ruang-ruang kelas di sekolah kini lebih terang, memungkinkan proses belajar mengajar berjalan optimal tanpa bergantung pada cuaca, sekaligus memicu semangat belajar anak-anak kepulauan.
Dampak transformatif ini diakui langsung oleh Ketua RW Pulau Sembur, Abu. Ia menyampaikan rasa syukur yang mendalam atas kehadiran listrik tenaga surya di wilayahnya. Menurut Abu, listrik tidak hanya membantu aktivitas di masjid dan sekolah, tetapi juga menjadi angin segar bagi para nelayan lokal. Bersamaan dengan program ini, anak-anak tingkat TK dan SD di Pulau Sembur turut menerima paket perlengkapan sekolah dari Pertamina NRE guna menopang masa depan pendidikan mereka.
Menopang Produktivitas Nelayan dan Ekonomi Lokal Lebih jauh lagi, pemanfaatan energi ramah lingkungan ini menyasar langsung ke sektor perikanan yang menjadi urat nadi perekonomian warga. Sebanyak 20 unit PLTS portabel berkapasitas masing-masing 150 watt dipasang secara khusus pada 20 kapal nelayan setempat. Fasilitas ini berfungsi sebagai sumber penerangan andal saat para nelayan harus melaut pada malam hingga dini hari, meningkatkan faktor keselamatan kerja sekaligus efisiensi operasional di tengah laut.
Pjs Corporate Secretary Pertamina NRE, Rika Gresia Wahyudi, menegaskan bahwa program ini merupakan wujud nyata komitmen perusahaan dalam mengawal transisi energi yang inklusif. Pertamina NRE meyakini bahwa pemerataan energi bersih harus berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas hidup masyarakat di wilayah terdepan dan terpencil. Melalui integrasi teknologi ramah lingkungan dan pemberdayaan ekonomi lokal, proyek di Pulau Sembur ini diharapkan mampu menjadi cetak biru (blueprint) bagi pengembangan wilayah kepulauan lain di Indonesia dalam menyongsong era kemandirian energi berkelanjutan.
Sumber: money.kompas.com