Komoditas lokal kini semakin menunjukkan taringnya dalam memperkuat roda ekonomi masyarakat di tingkat akar rumput. Di Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau, sebuah kelompok Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) bernama Rimba Sari berhasil memanfaatkan potensi pertanian daerah secara optimal. Mereka secara kreatif mengolah nanas varietas moris menjadi aneka produk pangan olahan yang memiliki nilai ekonomis tinggi, sekaligus menjadi bukti nyata bagaimana modal usaha yang relatif kecil mampu menggerakkan ekosistem ekonomi berkelanjutan.
Inovasi pangan berbasis nanas moris ini dipamerkan secara luas dalam gelaran Festival Nanas yang berlangsung di Balai Pelatihan dan Pemberdayaan Masyarakat Transmigrasi, Pekanbaru. Kehadiran ragam olahan kreatif tersebut langsung menarik perhatian masyarakat serta jajaran pemangku kebijakan. Wilda, salah seorang pelaku usaha dari UMKM Rimba Sari, menjelaskan bahwa kelompoknya memanfaatkan seluruh potensi buah khas ini agar menjadi produk konsumsi yang variatif dan tahan lama.
Inovasi Produk dan Keberlanjutan Bahan Baku Sejak dirintis pada tahun 2019, kelompok yang beranggotakan tujuh orang ini mengelola sebuah rumah produksi yang merangkap sebagai gerai penjualan resmi. Meskipun omzet bulanan mereka masih fluktuatif dan berada di kisaran rata-rata Rp 2 juta per bulan karena sangat bergantung pada jumlah pesanan, bisnis ini terus berjalan konsisten berkat jaminan pasokan bahan baku yang sangat stabil. Kabupaten Kampar, khususnya Kecamatan Tambang, diperkuat oleh keberadaan dua desa sentral penghasil nanas melimpah, yakni Desa Kualu Nenas dan Desa Rimbo Panjang, yang sebagian lahannya dimiliki sendiri oleh para anggota kelompok.
Hingga saat ini, jenis produk yang berhasil diproduksi oleh UMKM Rimba Sari bersumber penuh dari nanas moris mencakup:
Sirup buah segar
Cuka nanas herbal
Dodol tradisional
Keripik renyah
Ongol-ongol
Stik camilan
Roti dan kue sagon
Dari aspek legalitas usaha, produk cuka nanas buatan mereka kini telah mengantongi izin resmi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), sementara untuk produk sirup saat ini masih berada dalam tahap proses pengurusan administrasi serupa.
Komitmen Dukungan Pemerintah Pusat Keberhasilan inovasi ini juga mendapat apresiasi langsung dari Wakil Menteri Transmigrasi, Viva Yoga Mauladi, yang berkesempatan hadir dan mencicipi langsung produk olahan tersebut. Dalam kunjungannya, beliau menegaskan komitmen penuh pemerintah untuk menyusun langkah strategis jangka panjang berupa perencanaan program rumah produksi terpadu khusus nanas moris. Pemerintah melihat komoditas ini memiliki konsep nirlimbah (zero waste) di mana tidak ada bagian tanaman yang terbuang sia-sia. Selain diolah sebagai makanan, produk turunan nanas moris berpotensi besar untuk dikembangkan menjadi pupuk organik, produk kosmetik kecantikan, hingga pemanfaatan serat daunnya untuk industri tekstil.
Langkah pembinaan terhadap UMKM di Riau ini sejalan dengan fokus utama kebijakan Kementerian Transmigrasi dalam melakukan penguatan ekonomi guna mendongkrak kesejahteraan warga transmigran maupun masyarakat lokal di sekitar kawasan. Selain pengolahan nanas, pemerintah juga tengah gencar menerapkan proyek percontohan (demplot) ekonomi di berbagai wilayah baru seperti Barelang, Batam, Rempang, dan Galang melalui pengembangan budidaya perikanan bioflok ikan nila dan metode hidroponik pekarangan demi mewujudkan kemandirian pangan nasional.
Sumber: money.kompas.com