Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, merespons pertanyaan masyarakat mengenai potensi penurunan harga Pertamax. Dalam pernyataannya, Bahlil menjelaskan bahwa kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, termasuk Pertamax, baru berlangsung selama dua hingga tiga minggu. Oleh karena itu, ia meminta masyarakat untuk bersabar dan tidak terburu-buru dalam mengharapkan penurunan harga.
Bahlil menegaskan bahwa pihaknya akan terus memantau perkembangan harga minyak dunia secara menyeluruh sebelum membuat keputusan lebih lanjut. “Kita lihat saja nanti,” ujar Bahlil saat ditanya mengenai kemungkinan harga Pertamax akan turun pada pekan depan ketika menghadiri acara di Gedung DPR RI. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa pemerintah masih dalam fase evaluasi terhadap fluktuasi harga global yang dapat mempengaruhi harga BBM domestik di Indonesia.
Konteks Kenaikan Harga BBM Dalam konteks pasar global saat ini, harga minyak menunjukkan stabilitas yang berbeda dibandingkan dengan periode awal konflik di Timur Tengah yang menyebabkan lonjakan harga. Harga minyak mentah Brent kini terpantau berada di angka sekitar US$ 72,57 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) tercatat di angka US$ 70,11 per barel. Dalam beberapa pekan terakhir, masyarakat dihadapkan pada kenaikan harga BBM nonsubsidi yang cukup signifikan. Misalnya, harga Pertamax (RON 92) naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter, sementara Pertamax Green 95 (RON 95) mencapai Rp 17.000 per liter, meningkat dari harga sebelumnya yang hanya Rp 12.900 per liter.
- Kenaikan Pertamax bisa mengakibatkan dampak langsung pada biaya transportasi dan kebutuhan sehari-hari masyarakat.
- SPBU swasta juga tidak jauh tertinggal, dengan harga BP 92 kini di Rp 16.670 per liter dan VIVO Revvo 95 mencapai Rp 17.240 per liter.
Bahlil juga meminta agar publik dan media bersikap adil dalam mengamati kebijakan mengenai harga BBM nonsubsidi. Ia mengungkapkan bahwa sebelum kenaikan harga, pemerintah sempat menahan harga dalam periode yang cukup lama meskipun harga minyak global meningkat tajam. “Media harus fair, karena selama hampir tiga bulan, harga minyak tidak kita naikkan. Sekarang, baru dua minggu harga BBM naik, langsung mempertanyakan penurunan harga,” tuturnya. Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah ingin agar masyarakat dan media memahami bahwa keputusan harga BBM melibatkan pertimbangan yang matang dan pengawasan terhadap dinamika pasar.
Sumber: oto.detik.com