Menuju Indonesia Emas 2045: Jebakan Stabilitas 5 Persen dan Pentingnya Akselerasi Ekonomi

Menuju Indonesia Emas 2045: Jebakan Stabilitas 5 Persen dan Pentingnya Akselerasi Ekonomi

Sejumlah ekonom memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2026 akan berada di kisaran 5 hingga 5,4 persen. Angka ini diperkirakan tidak jauh berbeda dari capaian stabilitas makro pada tahun sebelumnya. Walaupun indikator ini kerap dianggap sebagai kabar baik yang mencerminkan ketahanan ekonomi nasional, para pakar ekonomi pembangunan justru memberikan peringatan keras. Stabilitas yang bertahan terlalu lama di level moderat dikhawatirkan dapat menjebak Indonesia dalam status negara pendapatan menengah (middle income trap). Tanpa adanya lompatan besar, target ambisius untuk mewujudkan Indonesia Emas pada tahun 2045 dikhawatirkan hanya akan menjadi sekadar janji dan slogan normatif belu.

Kelemahan Struktural dan Tantangan Sektoral Meski mesin ekonomi saat ini masih mampu berjalan ditopang oleh tingginya konsumsi rumah tangga, model pertumbuhan semacam ini dinilai kurang bertenaga dalam mendorong akselerasi nilai tambah industri. Indonesia saat ini masih menghadapi keterbatasan kontribusi produktivitas dan adopsi teknologi tinggi jika dibandingkan dengan negara-negara di kawasan Asia Timur. Kelemahan struktural mendasar lainnya yang menghambat laju pertumbuhan adalah ego sektoral serta regulasi berlapis yang memicu fragmentasi kebijakan dari tingkat pusat hingga daerah. Akibat alur birokrasi dan administrasi investasi yang panjang, Indonesia kerap kehilangan momentum emas di kancah global karena lambatnya mengeksekusi peluang strategis.

Belajar dari Strategi Agresif Vietnam Kondisi ini berbanding terbalik dengan Vietnam yang sukses memacu pertumbuhan ekonominya melampaui angka 8 persen melalui strategi industrialisasi berorientasi ekspor yang masif. Pemerintah Vietnam berperan aktif sebagai koordinator strategis yang memastikan masuknya investasi asing selalu diiringi dengan transfer teknologi, peningkatan kapasitas tenaga kerja lokal, dan integrasi rantai pasok global. Indonesia sebenarnya memiliki modal yang jauh lebih besar untuk melakukan lompatan serupa melalui beberapa keunggulan strategis nasional.

Pasar domestik yang sangat besar sebagai bantalan sekaligus basis awal industrialisasi.

Kekayaan sumber daya alam melimpah untuk hilirisasi lanjutan menuju industri manufaktur bernilai tinggi.

Bonus demografi yang dapat dioptimalkan melalui revitalisasi pendidikan vokasi yang tersambung langsung dengan kebutuhan industri global.

Untuk merealisasikannya, diperlukan orkestrasi kebijakan yang terpadu antar kementerian dan lembaga dalam payung kolaborasi menyeluruh. Indonesia tidak harus mempertahankan pertumbuhan ekonomi yang sangat tinggi secara permanen, namun sejarah ekonomi mencatat bahwa lompatan menjadi negara maju membutuhkan setidaknya satu dekade pertumbuhan konsisten di angka 6,5 hingga 7,5 persen. Jika pemerintah hanya memilih bertahan di zona nyaman 5 persen, jarak untuk menjadi negara maju akan semakin sulit terkejar dan impian besar 2045 terancam gagal dicapai.

Sumber: money.kompas.com