Nilai Tukar Rupiah Bangkit Menjauh dari Rp 17.000, Profesor Ekonomi Ungkap 4 Faktor Pemicunya

Nilai Tukar Rupiah Bangkit Menjauh dari Rp 17.000, Profesor Ekonomi Ungkap 4 Faktor Pemicunya

Mata uang rupiah berhasil menunjukkan taringnya kembali setelah sempat mengalami tekanan hebat terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Berdasarkan data pasar keuangan terkini pada akhir Januari 2026, nilai tukar rupiah perlahan merangkak naik dan menjauh dari zona merah yang sebelumnya hampir menyentuh level psikologis Rp 17.000 per dolar AS. Pada perdagangan Rabu (28/1/2026) siang, rupiah mencatatkan penguatan sebesar 0,23 persen ke level Rp 16.719 per dolar AS, menguat tipis dibandingkan hari sebelumnya yang ditutup di angka Rp 16.768 per dolar AS.

Guru Besar Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof. Dr. Anton Agus Setyawan, S.E., M.Si, menjelaskan bahwa pemulihan nilai tukar mata uang Garuda ini dipicu oleh kombinasi kebijakan domestik yang solid serta situasi eksternal global yang mendukung. Berdasarkan pengamatan data pergerakan pasar, terdapat empat faktor utama yang menjadi motor penggerak bangkitnya nilai tukar rupiah dalam beberapa hari terakhir.

Intervensi Agresif Bank Indonesia dan Kebijakan Suku Bunga Faktor pertama dan yang paling krusial datang dari langkah taktis Bank Indonesia (BI). Selaku bank sentral, BI secara agresif melakukan intervensi besar-besaran di berbagai lini pasar untuk menstabilkan mata uang nasional. Langkah intervensi ini tidak hanya menyasar pasar spot, melainkan juga masuk ke pasar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) hingga pasar obligasi. Kehadiran BI di pasar keuangan dinilai sukses mengembalikan kepercayaan diri para pelaku pasar dan investor.

Selain intervensi langsung, kebijakan moneter terkait suku bunga acuan turut andil dalam menjaga stabilitas makroekonomi nasional. Berdasarkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, diputuskan bahwa BI-Rate tetap dipertahankan di level 4,75 persen. Meskipun keputusan menahan suku bunga tinggi ini dinilai kurang menguntungkan bagi agresivitas sektor riil dan para pelaku usaha, kebijakan ini terbukti ampuh dalam membendung arus modal keluar (capital outflow) sehingga rupiah tetap terjaga di zona hijau.

Intervensi masif Bank Indonesia di pasar spot, DNDF, dan obligasi.

Keputusan BI mempertahankan BI-Rate di level 4,75 persen guna menahan capital outflow.

Melemahnya indeks dolar AS akibat rilis data ekonomi yang mengecewakan pasar.

Meredanya tensi geopolitik global, terutama merenggangnya ketegangan militer di Greenland.

Pelemahan Dolar Global dan Meredanya Sentimen Geopolitik Faktor ketiga yang memicu penguatan rupiah berasal dari luar negeri, yakni melemahnya indeks dolar AS di pasar global. Rangkaian data ekonomi Amerika Serikat yang dirilis sepanjang Januari 2026 menunjukkan performa yang lebih buruk dari ekspektasi pasar. Kondisi ini memicu aksi jual dolar AS dan menguntungkan mata uang di kawasan Asia. Tren penguatan ini tidak hanya dinikmati oleh rupiah, melainkan juga dialami oleh mata uang regional lainnya seperti ringgit Malaysia yang menguat 0,76 persen, won Korea Selatan sebesar 0,36 persen, hingga yuan China yang naik tipis 0,08 persen.

Faktor terakhir yang menyempurnakan performa positif rupiah adalah meredanya sentimen ketidakpastian geopolitik global. Ketegangan militer internasional yang sempat memanas di wilayah Greenland dilaporkan mulai mendingin setelah Amerika Serikat dan negara-negara Eropa memilih untuk menurunkan tensi politik mereka. Redanya konflik geopolitik ini secara otomatis menurunkan tingkat risiko investasi global, sehingga aliran modal kembali mengalir ke negara-negara berkembang (emerging markets), termasuk Indonesia.

Sumber: kompas.com