Kolaborasi strategis terus diperkuat antara institusi pendidikan tinggi dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam menghadapi potensi risiko kebencanaan di Indonesia. Langkah sinergis ini dirancang tidak hanya untuk fokus pada penanganan darurat saat bencana terjadi, melainkan juga menyasar pada pemulihan yang berkelanjutan, edukasi publik, serta pembangunan kesadaran kolektif masyarakat dalam menghadapi ancaman bencana.
Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB), Tatacipta Dirgantara, menekankan bahwa persoalan kompleks terkait penanganan bencana tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak ataupun satu disiplin keilmuan saja. Oleh karena itu, ITB mendorong kerja sama lintas institusi yang erat dengan BNPB serta para pemangku kepentingan lainnya guna menghindari ego sektoral dan kerja yang terpisah-pisah. Kampus memegang peranan krusial dan strategis untuk jangka panjang, terutama dalam memitigasi risiko serta mencegah kerugian materiel maupun jatuhnya korban jiwa.
Kontribusi Teknologi Terapan dan Aksi Lapangan
Dalam implementasinya, ITB telah meluncurkan berbagai program berbasis kolaborasi, salah satunya dalam penanganan wilayah terdampak di Sumatera. Kontribusi nyata tersebut diwujudkan melalui penyediaan teknologi air bersih dengan kapasitas 1.000 hingga 7.000 liter per jam yang telah ditempatkan di puluhan titik strategis. Guna memperluas pemanfaatan inovasi ini, ITB juga menggandeng sejumlah perguruan tinggi mitra seperti UIN Ar-Raniry, Universitas Syiah Kuala, Universitas Samudera, dan Universitas Malikulsaleh melalui rangkaian lokakarya terpadu.
Selain penyediaan air bersih, tim dari ITB secara aktif terlibat dalam berbagai aksi pemulihan di lapangan, yang meliputi:
Pembersihan sumur warga yang terdampak lumpur menggunakan pompa submersible.
Pelaksanaan pengeboran air tanah untuk sumber air bersih baru.
Pembersihan fasilitas umum dan gedung sekolah yang terdampak bencana.
Pemberian dukungan psikososial bagi para korban melalui jaringan alumni dan mitra kemanusiaan.
Untuk memastikan akuntabilitas, seluruh pengelolaan donasi kebencanaan dilakukan secara transparan bersama mitra eksternal seperti Rumah Amal Salman, di mana laporan keuangan dan aktivitas pengerjaan diperbarui secara berkala setiap hari.
Integrasi Agenda Nasional dan Budaya Sadar Bencana
Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB, Raditya Jati, memberikan apresiasi tinggi terhadap komitmen aktif ITB yang konsisten mengawal seluruh fase bencana, mulai dari masa tanggap darurat, transisi, hingga pemulihan total. Menurutnya, kontribusi akademis yang menyentuh pendekatan sosial-ekonomi dan psikososial sangat penting untuk membangun kembali kawasan terdampak dengan lebih baik (build back better).
BNPB berharap ke depannya forum pengurangan risiko bencana ini semakin diperkuat agar integrasi keilmuan di kampus dapat berjalan selaras dengan agenda besar nasional, termasuk tantangan perubahan iklim dan target pembangunan berkelanjutan (SDGs). Kampus juga diproyeksikan menjadi pusat literasi utama guna mengedukasi generasi muda dalam 10 hingga 15 tahun ke depan demi terciptanya budaya masyarakat yang sadar dan tangguh bencana.
Sumber: bandung.kompas.com