Peta Ekonomi Asia Tenggara Bergeser: Vietnam Diprediksi Salip Thailand pada 2026

Peta Ekonomi Asia Tenggara Bergeser: Vietnam Diprediksi Salip Thailand pada 2026

Lanskap perekonomian di kawasan Asia Tenggara tengah bersiap menghadapi pergeseran kekuatan yang signifikan. Vietnam diproyeksikan berada di jalur yang tepat untuk menyalip Thailand sebagai negara dengan perekonomian terbesar kedua di ASEAN berdasarkan Produk Domestik Bruto (PDB) nominal. Berdasarkan laporan dari Nikkei Asia, perubahan peta kekuatan ekonomi yang dinamis ini diperkirakan dapat terjadi paling cepat pada tahun 2026 ini. Akselerasi pertumbuhan yang pesat di Vietnam utamanya didorong oleh gelombang investasi infrastruktur berskala besar yang dipimpin langsung oleh komitmen pemerintah negara tersebut.

Akselerasi Infrastruktur Jadi Motor Utama Vietnam

Langkah agresif Hanoi dalam membangun ketahanan fisik ekonomi menjadi faktor pembeda utama yang mempercepat laju pertumbuhan regionalnya. Pemerintah Vietnam sendiri telah merencanakan lonjakan investasi publik yang sangat signifikan, di mana nilai anggaran investasi publik untuk tahun 2026 diperkirakan melesat naik hingga 26 persen. Kepala Ekonom dari Bank for Investment and Development of Vietnam, Can Van Luc, mengungkapkan bahwa realisasi dari peningkatan belanja masif tersebut berpotensi mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional secara langsung.

Peningkatan investasi publik hingga 26 persen diproyeksikan mampu menyumbang tambahan 1,6 poin persentase pada pertumbuhan ekonomi Vietnam.

Penyelesaian proyek strategis nasional, termasuk bandara internasional baru di dekat Ho Chi Minh City yang dijadwalkan mulai beroperasi penuh pada tahun 2026.

Pembangunan koridor kereta api cepat di wilayah utara yang menghubungkan jaringan logistik dengan dukungan kemitraan dari China.

Kendati demikian, para analis mengingatkan bahwa Vietnam masih memiliki pekerjaan rumah berupa reformasi regulasi. Saat ini tercatat ada lebih dari 2.000 proyek investasi yang masih tertahan oleh hambatan birokrasi dan tumpang tindih perizinan, yang jika tidak segera diselesaikan dapat menahan potensi maksimal dari ekspansi ekonomi ini.

Kemunduran Performa Manufaktur dan Stabilitas di Thailand

Berbanding terbalik dengan momentum positif yang dinikmati Vietnam, kondisi perekonomian Thailand justru menunjukkan tren perlambatan akibat berbagai tekanan domestik dan eksternal. Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Thailand hanya akan menyentuh angka 1,5 persen pada tahun 2026, menandai penurunan sebesar 0,5 poin persentase dari capaian tahun sebelumnya. Beban utang rumah tangga yang menggunung terus menekan daya beli masyarakat setempat, ditambah pemulihan sektor pariwisata pascapandemi yang berjalan lambat.

Kondisi ini diperparah oleh tekanan perdagangan global berupa tarif impor baru dari Amerika Serikat yang memukul sektor manufaktur Negeri Gajah Putih. Akibatnya, raksasa otomotif global mulai mengurangi kapasitas operasional mereka di Thailand; Suzuki Motor telah memutuskan untuk menghentikan produksi kendaraan roda empatnya, sementara Honda Motor melakukan pemangkasan kapasitas produksi secara signifikan. Hambatan ini kian diperumit oleh ketegangan geopolitik perbatasan antara Thailand dan Kamboja yang sempat meletus menjadi konflik fisik, memicu kekhawatiran para investor asing mengenai stabilitas jangka panjang rantai pasok di wilayah tersebut.

Sumber: money.kompas.com