Presiden Prabowo Anugerahkan Bintang Jasa Pratama kepada Alumnus ITB Heri Sunarto Atas Inovasi Pertanian Berkelanjutan

Presiden Prabowo Anugerahkan Bintang Jasa Pratama kepada Alumnus ITB Heri Sunarto Atas Inovasi Pertanian Berkelanjutan

Dunia pertanian Indonesia kembali menorehkan prestasi gemilang melalui sentuhan inovasi berbasis teknologi. Alumnus Teknik Mesin angkatan 1989 Institut Teknologi Bandung (ITB), Heri Sunarto, secara resmi dianugerahi penghargaan Tanda Kehormatan Bintang Jasa Pratama oleh Presiden Prabowo Subianto pada Rabu, 7 Januari 2026. Apresiasi tertinggi ini diberikan langsung oleh Kepala Negara di tengah momentum perayaan Panen Raya dan Pengumuman Swasembada Pangan Nasional Tahun 2025 yang dipusatkan di Desa Kertamukti, Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Heri dinilai sukses menghadirkan lompatan besar dalam modernisasi agrikultur yang berdampak nyata terhadap ketahanan pangan nasional.

Pemberian penghargaan ini merupakan bentuk pengakuan atas kegigihan Heri dalam melahirkan enam inovasi mutakhir di sektor agrikultur berbasis industri dan mekanisasi pertanian. Dedikasinya berfokus pada efisiensi lahan, pemanfaatan limbah secara menyeluruh, serta penguatan produktivitas harian petani. Langkah strategis ini tidak hanya mempercepat modernisasi pola tanam konvensional, tetapi juga membuka jalan bagi pemanfaatan teknologi tepat guna yang ramah terhadap ekosistem.

Enam Inovasi Berkelanjutan Pola Industri

Dalam penerapannya di lapangan, Heri merumuskan sebuah konsep ketahanan pangan modern yang mencakup enam pilar inovasi terintegrasi. Pendekatan ini dirancang untuk menciptakan kemandirian pangan berskala makro maupun mikro melalui sistem yang saling mendukung, yaitu:

Pengembangan metode pertanian vertikal (vertical farming) untuk optimalisasi lahan terbatas.

Modernisasi peternakan ayam potong dan petelur yang higienis dan produktif.

Intensifikasi kegiatan pertanian tanaman pangan secara berkelanjutan.

Pengolahan limbah sisa hasil pertanian menjadi pakan berkualitas untuk sapi dan kerbau.

Penerapan tata kelola peternakan sapi dan kerbau berbasis sirkular.

Implementasi sistem pertanian terintegrasi (integrated farming) melalui pengelolaan limbah dengan prinsip simbiosis mutualisme.

Melalui pendekatan revolusioner ini, Heri berhasil mengubah lahan yang semula tidak produktif menjadi kawasan sirkular bebas limbah (zero waste). Eksperimennya menggabungkan sektor tanaman pangan, hortikultura, peternakan, hingga perikanan ke dalam satu lingkaran produksi tunggal. Menariknya, implementasi pertanian terpadu ini juga diadaptasi ke dalam konsep urban farming yang menjadi solusi konkret mengatasi krisis penyusutan lahan produktif di area perkotaan, selaras dengan berbagai riset ketahanan pangan yang digarap oleh para akademisi dan praktisi di ITB.

Sinergi Multidisiplin Ilmu Teknik dan Mikrobiologi

Keberhasilan proyek agrikultur Heri terletak pada kolaborasi lintas disiplin ilmu yang ia terapkan. Tidak hanya mengandalkan latar belakang keilmuan Teknik Mesin untuk merancang mekanisasi, ia juga menyerap prinsip-prinsip dari ilmu farmasi dan mikrobiologi. Salah satu wujud nyata dari keandalan integrasi sistem ini tampak pada instalasi kebun vertikal terpadu miliknya.

Pada struktur bertingkat tersebut, area paling atas dimanfaatkan secara optimal untuk menanam komoditas hortikultura bernilai jual tinggi seperti jahe dan cabai, sementara kandang ayam diposisikan tepat di bawahnya. Kotoran dari unggas tersebut tidak dibuang, melainkan ditampung pada lapisan paling dasar untuk menjadi media pengembangbiakan maggot yang kaya protein sebagai pakan alami ikan dan ayam. Seluruh residu cair dan organik kemudian dialirkan menuju kolam mina yang bertindak sebagai pabrik pupuk organik alami. Pola ini berjalan secara otomatis, berkelanjutan, dan efektif selama 24 jam penuh tanpa menyisakan dampak negatif bagi lingkungan sekitar.

Sumber: kompas.com