Presiden Prabowo Dorong Konglomerat Jepang Ekspansi Hilirisasi dan Percepat Ekosistem Mobil Listrik

Presiden Prabowo Dorong Konglomerat Jepang Ekspansi Hilirisasi dan Percepat Ekosistem Mobil Listrik

Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, melakukan kunjungan kerja resmi ke Tokyo, Jepang, pada Selasa (31/3/2026). Dalam lawatan tersebut, Kepala Negara menggelar pertemuan strategis yang dihadiri oleh 13 pimpinan perusahaan raksasa asal Negeri Sakura. Agenda utama dalam diskusi tingkat tinggi ini berfokus pada penguatan kemitraan ekonomi bilateral, perluasan investasi di sektor manufaktur, serta percepatan transisi energi, khususnya industri otomotif masa depan. Langkah ini diambil guna memperkokoh posisi Indonesia dalam rantai pasok global (global supply chain).

Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengungkapkan bahwa pemerintah Indonesia menaruh perhatian besar pada program hilirisasi industri sebagai prioritas nasional. Melalui hilirisasi, Indonesia berkomitmen untuk tidak lagi mengekspor bahan mentah, melainkan mengolahnya di dalam negeri demi menciptakan nilai tambah yang tinggi dan membuka lapangan pekerjaan yang luas bagi masyarakat. Kehadiran para raksasa korporasi Jepang, mulai dari Toyota Motor Corporation, Mitsubishi Corporation, Panasonic Group, INPEX, JBIC, hingga federasi bisnis Keidanren, diharapkan dapat memperkuat realisasi komitmen investasi sebelumnya yang telah menyentuh angka lebih dari Rp 380 triliun.

Sentilan untuk Sektor Kendaraan Listrik

Di tengah pembahasan investasi, transformasi industri otomotif nasional menjadi salah satu topik paling krusial yang disorot oleh Presiden Prabowo. Secara khusus, ia mendorong para pelaku industri otomotif Jepang untuk lebih agresif dalam mengembangkan ekosistem kendaraan listrik berbasis baterai (Battery Electric Vehicle/BEV). Indonesia dinilai memiliki modalitas yang sangat lengkap dari segi sumber daya alam untuk menjadi pemain utama produsen mobil listrik global. Namun, dalam kesempatan tersebut, Presiden juga sempat memberikan catatan kritis terhadap pendekatan produsen otomotif Jepang yang dinilai masih cenderung berhati-hati dalam beralih ke teknologi listrik murni.

Indonesia mendorong pemanfaatan sumber daya domestik untuk memproduksi kendaraan bernilai tinggi secara mandiri.

Ekosistem kendaraan listrik dianggap sebagai solusi strategis untuk menekan angka impor bahan bakar minyak (BBM).

Kemitraan strategis dengan Jepang diharapkan dapat mempercepat transfer teknologi teknologi hijau ke tanah air.

Merespons pandangan tersebut, pihak PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) menegaskan komitmennya untuk tetap menyelaraskan arah bisnis perusahaan dengan kebijakan strategis pemerintah Indonesia. Melalui strategi multi-pathway, Toyota tidak hanya fokus pada satu jenis teknologi elektrifikasi, melainkan mengembangkan berbagai opsi ramah lingkungan secara paralel, termasuk biofuel dan komponen mobil listrik seperti baterai. Pengembangan ini akan terus berjalan seiring dengan pengamatan terhadap dinamika pasar domestik maupun kebutuhan ekspor ke lebih dari 80 negara yang selama ini dipasok dari basis produksi Toyota di Indonesia.

Sumber: otomotif.kompas.com