Atmosfer kota Tokyo mendadak bergemuruh pada Jumat (26/6/2026) pagi waktu setempat menyusul kepastian tim nasional sepak bola Jepang mengamankan tiket ke babak 32 besar Piala Dunia 2026. Hasil imbang 1-1 yang diraih skuad Samurai Biru saat berhadapan dengan Swedia sudah lebih dari cukup untuk mengunci posisi mereka sebagai runner-up Grup F. Begitu peluit panjang ditiup, gelombang suporter yang menyaksikan laga lewat acara nonton bareng (nobar) langsung tumpah ruah ke jalanan, khususnya di kawasan persimpangan ikonik Shibuya Crossing, untuk merayakan pencapaian bersejarah ini di bawah guyuran hujan yang mulai mereda.
Pertandingan penentu tersebut berjalan dengan tensi tinggi dan menguras emosi para pendukung. Setelah bermain imbang tanpa gol di babak pertama, Jepang berhasil memecah kebuntuan pada menit ke-56 melalui aksi memukau Daizen Maeda yang memanfaatkan umpan matang Ritsu Doan. Gol tersebut tidak hanya membawa keunggulan sementara bagi Jepang, tetapi juga mencatatkan rekor baru sebagai gol ketujuh Jepang sepanjang turnamen�jumlah gol terbanyak yang pernah dicetak negara tersebut dalam satu edisi Piala Dunia. Kendati Anthony Elanga dari Swedia berhasil menyamakan kedudukan enam menit berselang, skor imbang ini tetap meloloskan kedua tim ke fase gugur, di mana Jepang dijadwalkan akan menantang juara dunia lima kali, Brasil, di Houston.
Pesta Jalanan di Pusat Shibuya
Luapan kegembiraan fans di Shibuya Crossing berlangsung dengan meriah namun tetap terkendali berkat kesigapan aparat kepolisian. Setiap kali lampu penyeberangan jalan berubah hijau, ratusan suporter berkumpul di tengah persimpangan, melompat bersama, dan menggemakan yel-yel "Jepang, Jepang!" dengan mengibarkan bendera nasional. Pihak kepolisian yang bersiaga dengan barikade pita neon dan pengeras suara dari mobil van bergerak taktis untuk mengarahkan massa kembali ke trotoar secara tertib saat arus lalu lintas kendaraan akan berjalan kembali.
Daizen Maeda mencetak gol pembuka pada menit ke-56, yang menjadi gol ke-7 Jepang di turnamen ini sekaligus memecahkan rekor gol terbanyak dalam satu edisi Piala Dunia bagi Samurai Biru.
Hasil imbang 1-1 sudah cukup membawa Jepang lolos sebagai runner-up Grup F ditemani Swedia di posisi ketiga.
Sebanyak 3.000 pejalan kaki memadati Shibuya Crossing setiap kali lampu hijau menyala untuk merayakan kelolosan timnas.
Tantangan besar berikutnya menanti Jepang yang akan berhadapan dengan raksasa sepak bola dunia, Brasil, pada hari Senin di Houston.
Kreativitas Tanpa Batas dan Sportivitas Tinggi Fans
Antusiasme luar biasa ini membuat mayoritas bar olahraga, kafe, dan pub di seantero Tokyo penuh sesak, bahkan beberapa tempat seperti Scramble Cafe mengubah konsep mereka menjadi bar olahraga dadakan demi menampung lonjakan pengunjung. Menariknya, keterbatasan ruang tidak menghalangi kreativitas sebagian suporter yang memilih menggelar nobar mandiri di trotoar jalan dengan bermodalkan layar laptop dan pengeras suara Bluetooth. Di tengah perayaan tersebut, sportivitas tinggi juga ditunjukkan oleh para pendukung Jepang yang tampak berbaur ramah, melakukan fist bump, dan saling melempar pujian dengan para pendukung Swedia yang sama-sama merayakan kelolosan tim mereka.
Shibuya Crossing sendiri kembali membuktikan perannya bukan sekadar persimpangan jalan tersibuk di dunia, melainkan juga panggung budaya dan ruang komunal utama bagi masyarakat Tokyo untuk merayakan momen-momen bersejarah. Dikelilingi oleh gedung-gedung pencakar langit serta papan reklame neon raksasa yang futuristik, landmark ikonik ini memancarkan energi kota modern yang dinamis. Bagi para suporter, perayaan bersama di tempat ini mempererat rasa kebersamaan sebagai satu komunitas yang optimis menatap laga krusial melawan Brasil di babak berikutnya.
Sumber: travel.detik.com