Kota Cirebon kembali membuktikan peran strategisnya sebagai "titik temu" utama di Pulau Jawa selama masa Angkutan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026. Terletak tepat di persimpangan jalur kereta api lintas utara dan selatan, Cirebon menjadi jangkar konektivitas yang menghubungkan kota-kota besar seperti Jakarta, Semarang, Purwokerto, hingga Yogyakarta. Tingginya intensitas perjalanan berbasis rel di kawasan ini merefleksikan besarnya kebutuhan mobilitas masyarakat sekaligus meningkatnya animo pelancong dalam memanfaatkan moda transportasi massal untuk berwisata.
Dampak Positif bagi Sektor Ekonomi dan Pariwisata Daerah
Konektivitas yang kuat ini tidak hanya melancarkan arus penumpang transit, tetapi juga memudahkan wisatawan untuk mengeksplorasi ragam destinasi unggulan di Cirebon. Para pelancong dapat dengan mudah menjangkau kawasan bersejarah seperti keraton, objek wisata religi, hingga pusat kuliner khas. Kehadiran para pelancong ini menciptakan multiplier effect yang nyata bagi perekonomian daerah, terutama dalam mendorong aktivitas bisnis para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), perajin, pedagang lokal, serta penyedia jasa akomodasi di sekitar stasiun.
Tiket terjual di wilayah Daop 3 Cirebon menembus angka 81.244 tiket atau setara dengan tingkat okupansi 108 persen dari kapasitas awal.
Penjualan tiket kereta api secara nasional hingga awal Januari 2026 naik sebesar 10,86 persen dibandingkan periode tahun lalu, dengan total mencapai lebih dari 4,1 juta tiket.
Cirebon mencatat pertumbuhan signifikan pada segmen wisatawan mancanegara, di mana puluhan ribu turis asing menggunakan layanan kereta api jarak jauh sepanjang tahun.
Catatan Lonjakan Penumpang di Dua Stasiun Utama
Berdasarkan data akumulasi dari Daerah Operasi (Daop) 3 Cirebon, tercatat sebanyak 274.400 pelanggan hilir mudik di wilayah tersebut selama periode 18 Desember 2025 hingga 4 Januari 2026. Pergerakan yang masif ini berpusat di dua stasiun utama, yakni Stasiun Cirebon yang melayani segmen kelas komersial dan Stasiun Cirebon Prujakan untuk kelas ekonomi. Guna mengantisipasi lonjakan penumpang, pihak operator menjalankan puluhan kereta api reguler serta tambahan setiap harinya, termasuk memfasilitasi program Angkutan Motor Gratis (Motis) Nataru guna mendukung kelancaran distribusi kendaraan dan mobilitas warga.
Sumber: nasional.kompas.com