Dampak buruk limbah tekstil dari industri pakaian murah (fast fashion) kian disadari oleh generasi muda di Indonesia. Kampanye 'Slow Fashion' atau fesyen lambat yang mengutamakan keberlanjutan bahan, etika produksi, dan ketahanan pakaian mulai gencar disuarakan sepanjang awal tahun 2026.
Alih-alih membeli pakaian murah dalam jumlah besar yang hanya dipakai beberapa kali, anak muda kini lebih selektif memilih merek lokal yang menggunakan serat organik ramah lingkungan serta menerapkan pewarna alami.
Langkah menyewa pakaian untuk acara formal atau melakukan pertukaran pakaian (clothes swap) juga menjadi kebiasaan baru yang menyenangkan sekaligus melindungi bumi dari penumpukan limbah sandang.
Sumber: mediaindonesia.com