Industri otomotif Thailand kini berada di persimpangan jalan yang krusial seiring dengan masifnya pergeseran pasar global menuju kendaraan listrik (electric vehicle/EV) dan penerapan sistem otomasi pabrik. Transformasi teknologi ini membawa tantangan berat bagi ketenagakerjaan setempat, di mana hampir satu juta pekerja menggantungkan hidupnya pada sektor ini. Mengingat struktur mesin mobil listrik jauh lebih sederhana dengan komponen yang lebih sedikit dibandingkan kendaraan konvensional, kebutuhan akan tenaga kerja manufaktur otomatis menyusut, sehingga memicu ancaman gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang masif.
Urgensi Praktik Bisnis yang Bertanggung Jawab
Menyikapi situasi yang penuh ketidakpastian ini, Direktur Industri Otomotif dan Dirgantara IndustriALL Global Union, Georg Leutert, menekankan pentingnya penerapan praktik bisnis yang bertanggung jawab atau responsible business conduct (RBC). Menurutnya, RBC bukan sekadar pemenuhan regulasi di atas kertas, melainkan keterbukaan manajemen untuk berdialog secara konstruktif dengan serikat pekerja demi merumuskan solusi bersama. Dampak nyata dari hilangnya lapangan kerja akibat simplifikasi komponen EV ini sudah mulai dirasakan di negara-negara industri maju seperti Amerika Serikat dan Jerman.
Kehilangan pekerjaan di era EV tidak bisa diselesaikan hanya dengan kompensasi finansial jangka pendek.
Perusahaan harus memprioritaskan program pelatihan ulang (reskilling) dan peningkatan keterampilan (upskilling).
Sinergi antar-pemangku kepentingan diperlukan untuk membantu pekerja beralih ke posisi baru yang membutuhkan keahlian lebih tinggi.
Otomasi dan Transparansi dalam Menghadapi Perubahan
Di sisi lain, Wakil Presiden AutoAlliance Thailand, Sathirayuth Sangsuwan, membagikan pendekatan praktis yang dilakukan oleh perusahaannya�yang merupakan kemitraan strategis antara Ford Motor Company dan Mazda Motor Corporation. Menghadapi target produksi tahunan yang mencapai 150.000 unit, AutoAlliance Thailand menerapkan keterbukaan informasi dengan membagikan rencana produksi bulanan secara mendetail kepada serikat pekerja untuk membangun kepercayaan bersama.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa integrasi teknologi seperti robot dan cobot di pabrik tidak selalu bertujuan untuk mengeliminasi manusia, melainkan untuk meningkatkan kapasitas dan memindahkan pekerja berpengalaman ke pos tanggung jawab yang lebih tinggi. Kendati demikian, tantangan terbesar tetap berada pada rantai pasok hilir, khususnya para pemasok skala kecil yang kerap terhimpit tekanan biaya operasional tinggi selama masa transisi ini.
Sumber: otomotif.kompas.com